This is about me:D

Dina Septiana 5 September 1997. Twitter: dnsptna ig: dnsptnaa. Thx

Rabu, 07 Desember 2011

oke, ini cerita yang bener-bener limited edition wkwk

haay balik lagi mmm...
sebenernya ini tugas b.indo disuruh bikin cerpen tp sekalian aja di post ke sini muehehe jadi dimaklumin bahasanya udh dibuat se-indonesia mungkin ga gawlgawl gtu





Pada suatu hari, saat liburan kenaikan kelas VIII. Liburan saya emang bener-bener gak asik dan cuma dihabisin buat online, hmm... saat sedang asik-asiknya online tiba-tiba teman saya bernama Atrik mengirim saya sms, inti smsnya dia nyuruh saya untuk nonton TVRI, yaa tvri HAHA.
Disaat itu di TVRI menayangkan peresmian dunia fantasi (dufan) yang dibangun oleh Olla Ramlan didaerah Lianganggang, akhirnya saya pun melihat canel TVRI tersebut, karena selama liburan saya tidak kemana-mana, saya pun berniat ingin kesana dengan mengajak teman-teman saya Atrik, Ghina, Norma, Devi.
Kami pun berdiskusi melalui sms ke sms. Ternyata bukan hanya kami, Dwita temen satu sekolah kami juga ikut. Akhirnya hari yang kami ditetapkan itu adalah besok.

(hari berlalu)
Hari ini rencana kami pun dilaksanakan, sekitar pukul 12.00 saya sudah menyiapkan semua perlengkapan yang saya butuhkan. Saya menunggu Ghina, Norma dan Dwita untuk menjemput saya. Menunggu dan menunggu...
Sampai akhirnya satu mobil pun berhenti, dan ternyata didalam mobil tersebut itu adalah mereka. Saya bergegas menghampiri mobil tersebut.
Sungguh nyaman mobil ini, kalian tau ini mobil apa? hmmm ini adalah taksi wahaha
taksi? Mmm.... sepertinyaaa ini adalah angkot, yaa ini angkot, angkot hijau HA-HA
Ini adalah mobil pribadi para pelajar yang juga sering dibilang BMWnya para pelajar, hmm betapa enaknya mereka setiap hari sekolah selalu dijemput berganti-ganti mobil dan berganti-ganti supir pula mmm...

Oke lanjut...
Setelah saya naik taksi, eh maaf maksud saya angkot. Saya pun berbincang-bincang bersama teman-teman saya. Berkilo-kilo jalan kami lalui, tujuan kami sekarang adalah ke Landasan Ulin untuk menemui Atrik dan Devi
Berjalan dan berjalan.... Akhirnya kami hampir sampai di tempat tujuan. Setelah pas untuk berhenti kami berteriak "kiri" hmm kenapa harus kiri? Kenapa gak kanan? Atau pun tengah? Perlu dipertanyakan.
Kemudian  kami pun bayar taksi tersebut, setelah itu kami menunggu Atrik dan Devi didepan apotek yang berada tidak jauh dari tempat kami berada
Tidak beberapa lama kemudian Atrik dan Devi pun datang, lalu kami pun melanjutkan perjalanan kami ke dufan yang terletak strategis di Jalan Trikora kilometer (Pal) 1,4 Landasan Ulin, Lianganggang, Banjarbaru
Dan lagi-lagi kami pun pergi dengan menaiki mobil BMW hmmm
Jalan... jalan dan terus berjalan....

Kami akhirnya sampai didepan Lianganggang, kami berniat untuk berjalan dari depan jalan raya sampai dufan. Kata Atrik tempatnya tidak terlalu jauh, tapi dugaan itu salah!
Awal-awalnya kami semua bersemangat berjalan, hingga kira-kira 1kilometer kemuadian teman-teman saya mulai kelelahan. Saya bersama Atrik tetep semangat dong yaaa...
Terus berjalan, hingga akhirnya saya dan Atrik terpisah jauh dengan yang lain. Mungkin ini karena kami terlalu bersemangat jalan. Akhirnya saya bersama atrik memutuskan untuk beristirahat didekat pohon yang teduh. Tidak beberapa lama ada sebuah mobil yang menghampiri. Pertama saya kaget. Ini mobil siapa? Apakah ini penculik? Apakah ada yang ingin menculik saya dan Atrik? Dan jika itu benar, untuk apa kami diculik? Apakah mereka ingin menjadikan saya dan Atrik seperti anak-anak jalanan? Meminta duit kesana kemari dan jika tidak memenuhi setoran, kami akan dihukum tidak diberi makan ataupun dicambuk? Ohh tidaaaakk!! Aku belum siap! Aku belum belajar cara menjadi anak jalanan. Betapa mirisnya saya jika itu benar-benar terjadi.
Tetapi dugaan saya salah, ternyata disitu turunlah seorang wanita yang ingin menanyakan sesuatu kepada kami. Ibu itu menanyakan letak dufan. Saya tidak bisa berbicara banyak karena saya tidak tahu persis dimana dufan itu, hanya Atrik yang tau dimana tempatnya. Kemudian ibu-ibu tersebut pergi. Kalian tau apa yang saya dan Atrik sesali? Kenapa Ghina, Norma, Devi dan Dwita itu terpisah dari kami?  Jika mereka ada mungkin sekarang kami semua sudah duduk nyaman didalam mobil itu. Kalian tau kan maksudnya? Ya, numpang. Hmm tapi gimana yaaa, saya dan Atrik juga ga tega ninggalin mereka.
Disini kami masih menunggu mereka, Atrik mencoba menelpon salah satu teman kami yang berada disana dan tidak beberapa lama akhirnya mereka pun datang. Ternyata dan ternyata mereka tadi stop untuk beristirahat dan membeli minum. (mereka jahat yaaaa)
Akhirnya kami bersatu kembali seperti para power rangger, berkumpul untuk menakhlukkan musuhnya, dan ini kami. Para power rangger gadungan yang ingin menakhlukkan jalanan yang panjaaaaang untuk mencapai dufan.
Kami pun berjalan terus dan terus. Kira-kira sudah 2-3kilo, waaah bener-bener gila! berasa kaya dibolang. Tak lama kemudian, kami melihat sebuah papan iklan besar yang bergambar dufan. Alangkah senangnya hati kami jika dufan tersebut hampir sampai. Tapi terbesit dibenak pikiran saya. Ini tujuan kami adalah dufan! Dufan pastinya memiliki seluncuran yang lumayan tinggi. Tapi tidak sedikitpun saya melihat disekitar sana seluncuran tersebut, hmmm firasat buruk pun menyertai. Kami berjalan hingga akhirnya sampai di papan iklan tersebut. Kami cukup terkejut karena disitu tidak ada apa-apa, hanya jalanan kosong yang banyak dilewati truk. Waww! Betapa lebih terkejutnya setelah kami melihat tulisan yang menunjukkan kalau dufan itu berbelok kekiri dan masih menempuh perjalanan sekitar 1-2 kilometer. Aaaaaa ini buruk, seburuk-buruknya hari yang paling buruk. Kami pun akhirnya beristirahat disalah satu tempat kosong yang entah itu digunakan untuk apa. Ini bener-bener tragis, kami udah resmi kaya anak jalanan kalo gini. Pengen niat untuk balik pulang. Tapi gimana, kalau kami pulang semua jadi terasa sia-sia.

Setelah beristirahat cukup lama, kemudian ada mobil yang lewat. Kalian tau apa yang ingin kami lakukan? ya, kami ingin numpang HA-HA. Hanya berdiri disekitar jalan, orang yang berada dimobil tersebut pun paham jika kami ingin menumpang. Waah sebuah anugerah sekali ini.
Kami semua segera menaiki mobil tersebut. Hmm ini benar-benar mobil bukan angkot yaaa. Tapi apakah kalian tau ini mobil apa? Ini adalah mobil...... pick up *jleb*
Oke, bodo amat dah, sekarang mau pick up kek mau truk kek sama aja, kalo dalam kondisi kaya gini mobil pick up berasa naik mobil surga...
Mobil ini pun jalan...
Perjalanan kami menaiki mobil pick up ini membuat kami tidak nyaman, dikarenakan dibelakang kami ada sebuah truk yang sedang menumpangi anak-anak kecil yang nakal, anak kecil itu mengejek kami. Hmm betapa malunyaaaa.....
Tidak hanya anak kecil itu saja, ada beberapa anak yang menggunakan sepeda melihat kami penuh heran. Itu membuat kami langsung menutup muka kami. Seolah-olah kami adalah para artis yang tidak ingin diambil gambarnya oleh para wartawan HAHAHA
Dufan pun hampir sampai, kami tidak ingin terlalu merepotkan paman pick up yang kami tumpangi ini. Akhirnya kami pun meminta mobil pick up ini untuk stop. Tidak seperti angkot jika ingin stop selalu berteriak "kiri". Kali ini cara stopnya dengan berteriak "stop! stop!" sambil memukul-mukulkan tangan keatap mobil wahaha
Kami lalu turun dari mobil tersebut dan tak lupa mengatakan terimakasih kepada paman pick up itu.

Sedikit perjalanan lagi kami tempuh untuk mencapai dufan. Hingga akhirnya kami semua sampai. Betapa senangnya hati kami perjalanan kami tidak sia-sia, kami pun segera membeli tiket untuk memasuki area dufan. Saat ingin masuk ternyata kami bertemu dengan Randy, salah satu teman kami disekolah. Sementara Randy mengantri membali tiket, saya masuk kedalam dengan hati yang tidak tenang. Gimana kalau Randy tau kalo kita semua kesini naik angkot, terus jalan kaki, lanjut naik pick up?! Udah deh nasib sial banget. Sesampainya di dalam, kami berkeliling mencari tempat untuk meletakkan tas. Akhirnya kami menemukan tempat kosong untuk meletakkan tas. Kami pun bergegas bercebur karena sudah tidak tahan terkena terik panas yang menyengat, tak lupa pula kami mencoba seluruh seluncuran. Menurut saya seluncuran ini tidak terlalu tinggi dan tidak ekstrim dibandingkan dengan waterboom yang terletak di Banjarmasin. Mungkin dikarenakan fasilitas ditempat ini belum sempurna dibuat. Dengan cukup gembira kami bermain-main disini. Hingga akhirnya waktu sudah cukup sore dan terpaksa kami segera bergegas untuk membersihkan diri.


Ternyata kamar mandi disini belum selesai dibuat, hanya ada beberapa kamar kecil yang bisa digunakan untuk kami mandi. Kami mengantri cukup lama dikarenakan hanya ada 2kamar kecil untuk perempuan, berbanding jauh dengan jumlah pengunjung perempuan yang berkunjung disini.
Akhirnya saya bersama Devi memutuskan untuk mencari kamar kecil yang lain agar dapat memanfaatkan waktu kami karena hari sudah cukup sore. Kami berdua berjalan dan akhirnya menemukan kamar kecil tersebut. Tapiiiii..... Setelah saya membukanya, waaah aroma yang sangat-sangat tidak nyaman dan ada lalat disitu. Ternyata oh ternyata disitu ada..... (#%5*=+@!&?,>") DOUBEL E! Saya lalu menarik Devi dan bergegas meninggalkan kamar kecil tersebut dan kembali ke antrian kamar kecil sebelumnya. Devi menanyakan kenapa saya menariknya. Saya pun menjelaskan apa yang saya cium dan lihat. Sungguh menjijikan hal yang saya lihat tadi. Semoga orang-orang yang baik hati ingin membersihkannya, apalagi di kamar kecil tersebut letaknya berdekatan dengan tempat makan.
Kami masih menunggu dan menunggu, hingga orang demi orang pun berlalu keluar kamar kecil. Saya juga melihat Randy saat itu yang ingin mandi juga. Aduuuh... Gimana kalo kami pulang barengan saat Randy keluar?! Randy pasti akan tau kalo kami jalan! Karena waktu yang sangat sore, untuk memanfaatkan waktu, kami mandi berdua-berdua. Saya mandi bersama Ghina. Waww... Sumpah ini ribet banget, beberapa kali kami bilang "jangan balik badan, jangan ngintip". Aduh pokoknya kami saling parnoan deh ya takut di-intip haha. Kami pun bergantian menggunakan shower dan terus berganti-gantian sampai lupa waktu. Mungkin karena kami yang terlalu lama dikamar kecil ini, tiba-tiba ada ibu-ibu yang menggedor pintu kamar kecil kami. Aduh sabar ya bu, ini badan lengket banget. Apalagi ini mandinya gantian. Saya dan Ghina pun bergegas untuk memakai baju. Selesai memakai baju kami pun segera keluar.
Kami masih menunggu Dwita dan Norma yang masih mandi. Hingga akhirnya mereka keluar.
Kami bingung bagaimana cara kami untuk pulang, sedangkan orangtua kami sama sekali tidak ada yang bisa menjemput. Kami memutuskan untuk jalan lagi
Sebelum pergi kami membeli minum dulu untuk berjaga-jaga jika kelelahan saat dijalan nanti. Kami tidak ingin berlama-lama karena waktu sudah semakin sore, belum lagi waktu yang kami tempuh saat kami berjalan nanti. Kami bergegas keluar, dan saya berdoa agar Randy tidak melihat kami. Saat berjalan menjauh dari gerbang dufan, saya mulai panik karena ada beberapa anak lelaki yang menggunakan motor dengan melihat ke arah kami. Dengan cepat kami berjalan, hingga akhirnya sandal saya putus. Tapi biarlah, sandal saya talinya banyak, jadi satu putus masih ada yang lain WKWK
Kami berjalan terus dan terus, kemudian ada seorang bapak-bapak menyarankan lebih baik kami berbelok kearah kanan, karena dijalan yang kami lewati itu banyak truk yang lewat dan berbedu. Karena kami merasa tempat ini banyak truk dan debu, kami memutuskan mengikuti saran bapak-bapak tersebut.

Tempat yang kami lewat memang terlihat lebih ramai daripada tempat yang kami lewati sebelumnya. Kebanyakan mayoritas penduduk disitu bermata pencaharian sebagai tukang kayu. Sepanjang jalan yang kami lewati semua banyak orang pembuat kayu disitu. tukang-tukang pembuat kayu tersebut membuat kami cukup tidak nyaman, beberapa kali kami digodai orang tersebut, ada juga yang naik motor dan menawari kami tumpangan. Sempat juga saya membaca ayat kursi dan alfatihah 4 saat melewati ojekan yang banyak bapak-bapak yang sesekali mengganggui kami.
Karena kawasan disitu yang saya katakan tadi mayoritasnya kebanyakan tukang kayu. Jadi lewatlah juga 1 mobil polisi untuk berpatroli disekitar situ. Lagi-lagi inisiatif kami untuk menumpang muncul lagi HA-HA. Ketika mobil patroli tersebut lewat disebelah kami, kami semua berhenti berjalan sambil menatap muka om polisi tersebut. Om polisi itu pun menayakan kami sedang apa kami berjalan ditempat seperti ini, lalu kami menjelaskan alur cerita yang kami lalui tadi. Polisi tersebut menawarkan kami untuk menumpang. Tentu saja kami tidak akan menolak kesempatan itu. Kami lalu menaiki mobil tersebut dengan hati yang cukup lega! Sepanjang jalan menelusuri tempat itu, banyak orang-orang yang melihat kearah kami, seolah-olah kami adalah penjahat hmm.... Kami diantarkan sampai ke depan jalan raya, betapa senangnya kami akhirnya kami bisa melanjutkan pulang, setelah sampai didepan jalan kami pun turun, dan mengatakan banyak terimakasih pada om polisi itu. Kemudian saya pun kembali naik angkot dan pulang kerumah.
Ini cerita memang berkesan banget, dan gak mungkin terlupakan. Cerita yang limited edition banget, yang gak semua orang bisa ngerasain ;) dan ini juga jadi salah satu pembuktian kalau polisi itu menjalani tugas dengan baik, dan dapat melayani masyarakatnya contohnya seperti kami :D makasih paman pick up, makasih om polisi terutama terimakasih  Tuhan yang udah ngelindungi kami semua.